Pernahkah terpikir Tuhan dalam agama Buddha seperti apa? Seringkali umat beragama Buddha maupun umat beragama lain berpikir kalau Buddha Gautama adalah Tuhan dalam agama Buddha. Padahal Buddha Gautama hanyalah orang biasa yang tercerahkan. Lalu apa itu Tuhan dalam agama Buddha?


Konsep ketuhanan dalam agama Buddha dijelaskan oleh Bapak Harkiman Racheman dalam Pelatihan Dhammaduta Muda Angkatan ke-3 tanggal 22 Agustus 2019. Beliau merupakan seorang dosen di Universitas Methodist Indonesia dan STAB Bodhi Dharma sekaligus seorang dhammaduta yang lebih dikenal dengan nama Upasaka Saccako. Beliau mengatakan bahwa ada kesamaan antara Agama Buddha dengan agama lainnya yaitu sama-sama beraliran nasionalis. Dimana nasionalis menurut beliau adalah menyebarkan dan mengajarkan ajaranNya ke semua makhluk dan bukan berfokus untuk mempelajari agama sendiri saja.

Agar lebih mudah dalam memahami Ketuhanan dalam agama Buddha, beliau memberikan beberapa contoh Tuhan menurut beberapa kepercayaan maupun agama baik dari Tuhan dalam Mitologi Yunani (Zeus) sampai para Tuhan dalam kepercayaan Tionghoa (Jade Warlord, dll).


Setelah membahas tentang Ketuhaan Versi Buddhis, dilanjutkan dengan pembahasan tentang Kemuliaan Hidup sebagai Manusia yang dibawakan oleh UP. Bhadra Pala, CPS®. Dimana beliau menjelaskan tentang bagaimana caranya menjadi manusia yang berharga hidupnya. Untuk mencapainya kita harus berusaha untuk mengidentifikasi kebebasan dan keberuntungan yang terdiri dari 2 hal  yaitu dua kebebasan dan sepuluh keberuntungan. Selain itu kita juga harus merenungkan nilai besar dari kebebasan dan keberuntungan itu sendiri. Setelah kita merenungkan nilai besar dari kebebasan dan keberuntungan, kita harus merenungkan kembali bagaimana sulitnya untuk mencapai hal tersebut baik dari sudut pandang penyebabnya, perumpamaannya, dan sifat esensinya.

Karena sulitnya terlahir sebagai manusia dan sulitnya menjadi manusia yang berharga, beliau mengingatkan kembali ke semua peserta dengan sebuah video tentang bagaimana singkatnya hidup seorang manusia. Saking singkatnya kita tidak sadar hidup kita yang berharga banyak disia-siakan untuk berjuang sampai mati mendapatkan sesuatu yang tidak dibawa mati. Kita justru mengabaikan sesuatu yang dibawa mati. Sebagai penutup, beliau mengatakan kepada seluruh peserta  kalau “Segala sesuatu yang berkondisi tidaklah kekal adanya. Maka dari itu, jangan lengah dan berlatihlah dengan tekun.” (CL)